Teh sebagai budaya dalam lintasan masa
![]() |
Menyiapkan teh. British Museum, Public domain, via Wikimedia Commons |
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cina, Jepang dan beberapa negara Asia lainnya di masa kuno, teh lebih dari sekadar minuman. Teh juga dianggap sebagai simbol kesederhanaan dan kedamaian dan juga untuk mencapai ketenangan batin dan meditasi. Hal ini disimbolkan dalam ritual upacara minum teh Jepang yang melibatkan kesabaran serta estetika. Hal ini dikarenakan teh adalah barang dagangan yang memiliki nilai ekonomis dan langka sehingga diperlakukan dengan baik.
Saat ini, teh adalah bagian dalam kehidupan sehari-hari di seluruh dunia, dimana teh lebih mudah didapatkan dalam bentuk kantong teh atau teh siap saji. Bahkan, teh juga berkembang menjadi perasa masakan atau menjadi minuman populer karena dicampur dengan bahan makanan atau minuman tertentu.
Teh dalam budaya populer
![]() |
Ilustrasi jamuan teh sore. John George Sowerby (1850–1914) and Henry Hetherington Emmerson (1831–1895), Public domain, via Wikimedia Commons |
Selain sebagai bentuk estetika dan budaya, teh juga dikenal dalam pengobatan tradisional dan berkaitan dengan sosial budayanya. Teh hadir sebagai minuman yang menjangkau semua kalangan serta dapat dijumpai dalam berbagai variasi minuman panas dan dingin. Beberapa negara di dunia selain Jepang juga menyertakan teh sebagai budaya minum mereka, seperti di Tiongkok, Thailand, Argentina dan Maroko.
Bahkan, di Inggris, terdapat budaya jamuan teh sore yang telah dimulai sejak tahun 1840-an. Dalam tradisi ini, teh akan disajikan bersama dengan kudapan ringan seperti scone, sandwich, dan kue-kue kecil. Tradisi ini dikembangkan oleh Duchess of Bedford, yang merasa lapar di sore hari. Ia yang memulai kebiasaan minum teh pada sore hari dan lama kelamaan menjadi bagian dari kehidupan sosial Inggris, yang bermula dari rumah-rumah bangsawan dan akhirnya menyebar ke kalangan masyarakat umum.
![]() |
Momen pesta teh di film Alice in Wonderlan. Illustration by Sir John Tenniel, Public domain, via Wikimedia Commons |
Budaya minum teh ini juga muncul dalam film Alice in Wonderland dan merupakan momen penting. Di sini, Alice bertemu dengan Mad Hatter (Topi Mad), March Hare (Kelinci Maret), dan Dormouse (Pelanduk). Adegan ini menggambarkan situasi yang absurd dan kacau karena aturan tentang cara mengadakan pesta teh dilanggar. Pesta teh digambarkan tidak pernah berakhir dan waktu seolah terhenti pada jam 6 sore, karena mereka tidak pernah selesai mengatur waktu dan terus mengobrol hal yang absurd tanpa henti.
![]() |
Pesta Teh Boston. Copy of lithograph by Sarony & Major, 1846, Public domain, via Wikimedia Commons |
Selain itu, teh juga menjadi simbol perlawanan dari penjajah kepada pemerintah Inggris (pada 1773) akibat pungutan pajak yang dikenang sebagai Pesta Teh Boston. Teh merupakan barang dagangan penting pada tahun-tahun tersebut dan perusahaan yang memegang hak monopoli perdagangan teh saat itu, membebankan bea masuk 10% untuk setiap teh yang diimpor ke Inggris. Tentu saja hal ini membuat krisis dan gejolak oleh pekerja saat itu.
Teh di Jalur sutra
![]() |
Seorang perempuan sedang memetik teh. Kusakabe Kimbei. Flickr. CC BY SA. |
Teh berperan penting dalam sejarah Jalur Sutra, yang memiliki pengaruh yang besar terhadap budaya, ekonomi, dan kehidupan sosial di sepanjang jalur tersebut.
![]() |
Penjaja Teh. Русский: Кун, Александр Людвигович, 1865 - 1872, Public domain, via Wikimedia Commons |
Piranti minum teh
Menyebarnya teh sebagai minuman di jalur sutra, diikuti dengan piranti minumnya. Beberapa negara yang menganggap minum teh sebagai budaya maka juga menganggap serius piranti minum dan etika meminumnya. Piranti minum teh berkembang seiring dengan waktu yang mencerminkan perubahan budaya, teknologi, dan cara hidup masyarakat yang mengonsumsinya
Berikut piranti minum teh yang disusun berdasarkan linimasa tahun:
Sebelum masehi
Teko teh dari tembikar dengan hiasan bintik-bintik yang dibakar dengan proses khusus di Vassiliki. Teko ini diduga digunakan sekitar tahun 2200 SM. Peralatan teh di awal masih menggunakan bahan dari tanah liat.
![]() |
Teko teh tanah liat. Heraklion Archaeological Museum, CC0, via Wikimedia Commons |
Dinasti di Tiongkok
Teko teh dari Dinasti Tang (618-907M) di Pameran Teh, Museum Kota Xinyang, Henan. Peralatan teh di zaman dinasti sudah menggunakan porselen, namun masih tetap ada yang berbahan tanah liat.
![]() |
Teko teh dari Dinasti Tang. Gary Todd, CC0, via Wikimedia Commons |
![]() |
Peti dan kotak teh.Metropolitan Museum of Art, CC0, via Wikimedia Commons |
Abad ke-19
Satu set piranti minum teh berbahan porselen koleksi Museum Nasional di Kraków yang diperkirakan berasal dari Korets tahun 1800-1820.
![]() |
Museum Nasional di Kraków, CC0, via Wikimedia Commons |
![]() |
Membuat Teh Di Aljazir (1840-an).Timm Vasily (George Wilhelm) [1820-1895], Public domain, via Wikimedia Commons |
Satu
set piranti minum teh dari tahun 1853 yang diproduksi oleh perusahaan
Linherr & Co dan dipamerkan pada Pameran industri segala bangsa di
New York Crystal Palace
![]() |
N.N., Public domain, via Wikimedia Commons |
![]() |
Jamuan teh sore di Prancis. Revue illustrée (source gallica.bnf.fr / Bibliothèque nationale de France), CC0, via Wikimedia Commons |
![]() |
Guci teh Prancis dari tahun 1845. Metropolitan Museum of Art, CC0, via Wikimedia Commons |
Abad ke-20
Abad ke-21
Pada abad ke-21, perkembangan teh sebagai minuman mengalami perkembangan yang signifikan sebagai minuman global. Muncul berbagai inovasi dalam penyajian teh, seperti teh celup, teh botolan, teh berperasa hingga teh siap minum. Produk teh yang berasal dari Taiwan, yaitu teh Boba menjadi fenomena global dan menarik minat anak muda. Ditambah dengan piranti minum berupa gelas plastik, memudahkan teh untuk dinikmati kapan dan dimana saja.

Teh susu dalam kemasan. 毒島みるく, CC0, via Wikimedia Commons

Comments
Post a Comment